Sabtu, 20 Maret 2010

PERKAWINAN PERTAMA PADA SAPI PERAH DARA

Perkawinan adalah suatu usaha untuk memasukan sperma ke dalam alat kelamin betina. Perkawinan pertama seekor sapi perah dara tergantung pada 2 faktor utama yaitu umur dan berat badan. Apabila perkawinan sapi perah dara terlalu cepat dengan kondisi tubuh yang terlalu kecil, maka akibat yang terjadi adalah :
a.      Kesulitan melahirkan
b.      Keadaan tubuhnya yang tetap kecil nantinya setelah menjadi induk sehingga dapat berakibat kemandulan dan rendahnya produksi susu Sapi perah dara sudah siap dikawinkan setelah mencapai umur 15 - 18 bulan, Hal tersebut disebabkan karena sapi yang bersangkutan telah mendapatkan pakan yang cukup dan mencapai berat badan yang di kehendaki. Perkawinan sapi perah dara di Indonesia tidak disarankan menggunakan IB, sebab dapat dikhawatirkan pada waktu pertama kali beranak dan masih dalam fase pertumbuhan tersebut akan mengalami kesulitan sewaktu melahirkan karena besar pedet hasil IB yang dilahirkan. IB baru dianjurkan pada induk-induk sapi PFH yang beranak untuk kedua kalinya sampai seterusnya. Sapi perah dara FH dan Brown Swiss memerlukan berat badan 350 kg - 375 kg untuk perkawinan yang pertama, PFH pada berat 275 kg. Sedangkan Guernsey dan Aryshire pada berat badan 250 - 275 kg dan Jersey pada berat badan lebih kurang 225 kg
A.    Sistem Perkawinan Sapi Perah Dara

Sistem perkawinan merupakan sebuah gambaran dari beberapa metode perkawinan untuk program pengembakbiakan sapi. Masa berahi seekor sapi cukup singkat, maka perlu pengamatan secara teliti terhadap tanda - tanda berahi seekor ternak agar program perkawinan dapat berjalan sesuai rencana. Sistem perkawinan sapi perah dapat dilakukan dengan dua cara:
1.     Perkawinan Alami
Perkawinan alami dilakukan oleh seekor pejantan yang langsung memancarkan sperma kedalam alat reproduksi betina dengan cara kopulasi. Terlebih dahulu pejantan mendeteksi kondisi berahi betina dengan menjilati atau membau di sekitar organ reproduksi betina bagian luar setelah itu pejantan melakukan penetrasi.
Sapi dara yang berahi tidak langsung dikawinkan, melainkan diperiksa kondisi fisiologinya, yaitu dengan melihat bobot badan sebagai acuan bahwa sapi dara tersebut sudah dewasa kelamin. Menurut Lindsay et al. (1982) pada beberapa keadaaan, perkawinan betina sengaja ditunda dengan maksud agar induk tidak terlalu kecil waktu melahirkan. Induk yang terlalu kecil pada waktu melahirkan maka kemungkinan akan terjadi distokia. Umur ternak betina pada saat pubertas mempunyai variasi yang lebih luas daripada bobot badan pada saat pubertas (Nuryadi, 2006). Hal ini berarti bahwa bobot badan lebih berperan terhadap pemunculan pubertas daripada umur ternak. Umur dan bobot badan pubertas dipengaruhi oleh faktor-faktor genetik. Walaupun umur dari sapi dara sudah cukup untuk dikawinkan atau dengan kata lain sudah mengalami dewasa tubuh tidak berarti mengalami dewasa kelamin.
Alasan bahwa sapi dara harus mengalami dewasa kelamin adalah membantu dalam proses kelahiran, karena kelahiran yang tidak normal banyak terdapat pada sapi-sapi yang baru pertama kali melahirkan. Intensifikasi Kawin Alam ini dapat dilakukan oleh berbagai macam cara,diantaranya adalah :
a.      Perkawinan model kandang individu
b.      Perkawinan model kandang kelompok
c.      Perkawinan model mini Ranch (paddock)
d.      Perkawinan padang pengembalaan (angonan)
Hasil perkawinan alam ini tidak diragukan keberhasilanya. Menurut kejadian alamnya, perkawinan hanya mungkin terjadi antara sapi jantan dan sapi betina birahi yang merupakan periode sapi betina mau menerima sapi jantan. Cara pengaturan perkawinan pada sapi dapat dilakukan dengan pengaturan sepenuhnya oleh manusia yang disebut “Hand Mating”, di mana pemeliharaan yang jantan dan betina dipisah dan bila ada betina yang birahi diambilkan pejantan untuk mengawininya. Cara yang lain yaitu “Pastura Mating”, dimana sapi jantan dan betina dewasa pada musim kawin dilepas secara bersama. Bila ada sapi yang birahi tanpa campur tangan manusia akan terjadi perkawinan.
Untuk melaksanakan perkawinan perlu diperhatikan waktu yang tepat agar betina dapat terjadi bunting (konsepsi). Saat optimum terjadinya konsepsi pada ternak sapi adalah pertengahan estrus sampai akhir estrus.
2.     Perkawinan Buatan
Perkawinan buatan sering dikenal dengan Inseminasi Buatan (IB) atau Artificial Insemination (AI) yaitu dengan cara memasukkan sperma kedalam saluran reproduksi betina dengan menggunakan peralatan khusus (Blakely dan Bade, 1998). Melalui inseminasi buatan (IB), sapi tersebut menunjukkan gejala-gejala berahi dan mencocokkan data yang ada dalam satu siklus.
Tujuan Inseminasi Buatan
a.      Memperbaiki mutu genetika ternak;
b.      Tidak mengharuskan pejantan unggul untuk dibawa ketempat yang dibutuhkan sehingga mengurangi biaya;
c.      Mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul secara lebih luas dalam jangka waktu yang lebih lama;
d.      Meningkatkan angka kelahiran dengan cepat dan teratur;
e.      Mencegah penularan / penyebaran penyakit kelamin.
Keuntungan Inseminasi Buatan (IB)
a.      Menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan;
b.      Dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik;
c.      Mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina (inbreeding);
d.      Dengan peralatan dan teknologi yang baik sperma dapat simpan dalam jangka waktu yang lama;
e.      Semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati;
f.        Menghindari kecelakaan yang sering terjadi pada saat perkawinan karena fisik pejantan terlalu besar;
g.      Menghindari ternak dari penularan penyakit terutama penyakit yang ditularkan dengan hubungan kelamin.
Inseminator adalah tenaga teknis menengah yang telah dididik dan mendapat sertifikat sebagai inseminator dari pemerintah Pelaksanaan perkawinan dilakukan pada saat berahi. Selain itu pengecekan terhadap gangguan reproduksi juga dilakukan, jika sapi tersebut mengalami infeksi pada bagian cervic, atau organ lainnya maka perkawinan akan ditunda.
Deteksi berahi yang tepat merupakan kunci utama keberhasilan suatu perkawinan selain ketepatan dan kecepatan saat melakukan perkawinan, pemeriksaan berahi yang efektif memerlukan pengetahuan yang lengkap tentang tingkah laku sapi yang berahi baik normal ataupun tidak.
Deteksi berahi paling sedikit dilaksanakan dua kali dalam satu hari, pagi hari dan sore/malam hari. Dalam pelaksanaan deteksi berahi bagi para inseminator maupun peternak sukar untuk dapat mengetahui saat yang tepat awal terjadinya estrus (berahi). Terjadinya berahi pada ternak di sore hari hingga pagi hari mencapai 60%, sedangkan pada pagi hari sampai sore hari mencapai 40% (Lubis, 2006). Menurut Ihsan (1992) deteksi berahi umumnya dapat dilakukan dengan melihat tingkah laku ternak dan keadaan vulva.
Pengamatan dan pengecekan dilakukan oleh service veteriner pada pagi hari saat sapi digiring ke tempat pemerahan, siang hari saat sapi istirahat atau setelah diperah, begitu juga dengan kegiatan sore hari untuk pemerahan kedua, dan malam hari setelah sapi-sapi tersebut selesai diperah. Para petugas akan mencatat ear tag (identitas) apabila sapi betina menaiki sapi lain dan diam jika dinaiki. Kemudian sapi akan diperiksa dengan mencocokkan data yang ada melalui siklus estrus dari sapi tersebut. Siklus estrus adalah berahi yang berulang secara teratur dalam kurun waktu rata-rata 21 hari. Secara fisiologis, berlangsungnya siklus berahi ini melibatkan aktivitas sistem syaraf dan sistem hormonal dalam tubuh sapi, sehingga dapat dikatakan bahwa reproduksi sapi berlangsung secara neuro hormonal. Jika sapi tersebut masuk dalam pengecekkan satu siklus berahi (rata-rata 18 - 23 hari), tanda chalking orange pada pangkal ekor menghilang, vulva terlihat bengkak, panas, dan merah maka sapi tersebut dapat dikawinkan, untuk memastikan estrus lebih tepat lagi, cervic dapat diraba, jika agak keras (tegang) maka sapi tersebut positif estrus dan dikawinkan sebelum terlambat.Lamanya sapi berahi sangat bervariasi yaitu berkisar 6-30 jam (Lubis, 2006), dengan rataan 17 jam. Tidak jarang sapi-sapi yang berada di PT Greenfields Indonesia waktu berahinya tidak diketahui saat malam hari (10 pm) hingga pagi hari (6 am) karena tidak ada veteriner yang bertugas. Hal ini dapat membuat peternak kehilangan satu siklus berahi.
Tabel Siklus Berahi pada Sapi Betina Fase Lama waktu (hari ke-) dari siklus
Estrus 0–1
Metestrus 1-3
Diestrus 4-16
Proestrus 17-21
Sumber: Makalah Seminar Pelatihan Inseminator pada Sapi/Kerbau BIB Singosari, 2006
Catatan : Dalam menyebut hari-hari dari siklus berahi, hari ke-0 adalah saat munculnya berahi pertama kali, hari ke-1 adalah hari dimana berahi muncul pertama kali, demikian hari selanjutnya sampai dengan hari ke-21 dari siklus berahi. Hari-hari ini penting diketahui misalnya untuk penyuntikkan hormon prostaglandin (PGF2α) yang harus diberikan pada hari-hari antara hari ke-5 sampai dengan hari ke-16 dari siklus berahi.
Pelaksanaan IB ini pun dilakukan oleh inseminator yang sudah menguasai teknik inseminasi. Perlengkapan yang digunakan untuk perkawinan adalah (1). straw beku pejantan unggul yang diimpor dari Amerika dengan bangsa FH (Frisian Holstein), (2). gun IB yang diimpor dari New Zealand, dan (3). plastic sheat berasal dari Perancis. Straw langsung didatangkan dari Amerika dengan harga sekitar Rp 350.000,00 - Rp 400.000,00 - dalam satu container dengan kapasitas kurang lebih 3024 dosis. Semen-semen yang terdapat dalam satu container yang berisi 32-34 liter nitrogen terdiri dari 6-7 pejantan FH (Friesian Holstein) dengan jumlah sperma minimal dua puluh lima juta dalam satu straw kapasitas setengah milliliter (0,5 ml). Straw akan diambil sesuai kebutuhan dan disimpan dalam container kecil dengan kapasitas nitrogen enam liter untuk di bawa ke lapangan. Pergantian straw biasanya dilakukan setiap 6 bulan dengan adanya berbagai pertimbangan. Penambahan nitrogen dilakukan saat batas nitrogen dalam container kurang dari panjang straw, biasanya pada saat volume nitrogen tinggal 30-32 liter. Adapun tata cara pelaksanaan perkawinan buatan tersebut dimulai dari pengambilan straw dari container, pencairan sperma dengan menggunakan air yang bersuhu 37 0C, memasukkan straw ke dalam gun, perabaan cervic yang benar agar dalam menyuntikkan gun tepat dua hingga tiga sentimeter di depan mulut cervic. Semua prosedur untuk IB dilakukan dengan sangat hati-hati. Kriteria semen yang digunakan berdasarkan produksi susu yang tinggi, sedangkan kriteria semen yang digunakan untuk heifer berdasarkan easy calving 6% (mudah beranak).
Selain itu dalam prosentase kebuntingan apabila dilakukan dengan IB, menurut Rustanto (2000) menunjukkan bahwa persentase kebuntingan pada sapi apabila inseminasi dilakukan pada saat-saat : permulaan berahi (Per.Br.) sebesar 44%, pertengahan berahi (Pert. Br.) 82%, akhir berahi (Akh. Br.) 75%, 6 jam sesudah berahi (6 j. S.Br.) 62,5%, 12 sesudah berahi (12 j. S.Br.) 32,5%, 18 jam sesudah berahi (18 j. S.Br.) 24%, 24 jam sesudah berahi (24 j. S.Br.) 12%, 36 jam sesudah berahi (36 j. S.Br.) 8% dan 48 jam sesudah berahi (48 j. S.Br) 0%.
Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan inseminasi buatan diantaranya adalah:
1.      Kondisi betina, meliputi kesehatan dan anatomi organ reproduksi, Body Condition Score (BCS), lingkungan dan pakan, ektoparasit dan endoparasit.
2.      Spermatozoa, dilihat dari total sperma yang motil ( % motilitas dan konsentrasinya)
3.      Ketepatan waktu IB (siklus berahi)
4.      Penempatan posisi semen saat IB (tepat di depan cervik ± 3 cm)
B.    Perawatan Sapi Perah Dara Bunting Perawatan Yang Perlu Dilakukan Pada Sapi Yang Mulai Bunting, Antara lain :
a.      Makanan untuk sapi bunting perlu diperhatikan secara serius
b.      Keadaaan fisik sapi bunting ini akan mempengaruhi produksi selama masa laktasi mendatang
c.      Sapi yang telah bunting tua perlu dilepaskan di lapangan secara teratur. Dengan dilepas bebas di lapangan maka sapi tersebut dapat dengan bebas bergerak kemana-mana dan ini merupakan gerak badan sapi tersebut. Gerak badan itu penting untuk menjamin kesehatan tubuhnya dan memperlancar foetus pada saat melahirkan. 
d.      Sapi yang sedang bunting harus kita hindarkan dari benturan apapun, termasuk jangan sampai tergelincir
e.      Pemerahan susu haruslah diperhatikan , ketika sapi akan melahirkan kurang dari 1,5 atau 2 bulan
f.        Menjelang induk sapi ini melahirkan, maka harus ditambah lagi makanan yang cukup ditambah makanan penguat yang kandungan Prodnya 16 %, jumlahnya 2-3 kg/ ekor untuk setiap harinya. Hal ini akan berguna di dalam.
Membantu pembentukanØ ambing, terutama pada sapi dara Membantu pembuatan kolostrumØ Telah di ketahui bahwasanya sapi bunting perlu dilepaskan di lapangan terbuka agar dapat bebas bergerak. Gerak badan inilah sangatlah penting bagi sapi yang bunting. Keuntungan gerak badan tersebut antara lain :
a.      Otot-otot daging memperoleh latihan sehingga memperlancar peredaran darah
b.      Menjaga kesehatan, bentuk an posisi kuku sapi supaya tetap baik.
Gerak badan sapi atau melepaskan sapi bunting di lapangan terbuka ini, sebaiknya di tempat yang berumput dan terkena sinar matahari selama 1-2 jam (Mulyana, 2006)
KESIMPULAN
1.      Sistem perkawinan merupakan sebuah gambaran dari beberapa metode perkawinan untuk program pengembakbiakan sapi.
2.      Teknik manajemen perkawinan sapi potong dapat dilakukan degan menggunakan:
a.      Teknik kawin alam dengan pejantan alam
b.      Teknik Inseminasi Buatan (IB)
c.      Perkawinan pertama seekor sapi perah dara tergantung pada 2 faktor utama yaitu umur dan berat badan.
d.      perkawinan sapi perah dara terlalu cepat dengan kondisi tubuh yang terlalu kecil, maka akibat yang terjadi adalah :
a)  Kesulitan melahirkan
b)  Keadaan tubuhnya yang tetap kecil nantinya setelah menjadi induk sehingga dapat berakibat kemandulan dan rendahnya produksi susu
e.      Sapi perah dara FH dan Brown Swiss memerlukan berat badan 350 kg – 375 kg untuk perkawinan yang pertama, PFH pada berat 275 kg. Sedangkan Guernsey dan Aryshire pada berat badan 250-275 kg dan Jersey pada berat badan lebih kurang 225 kg


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar