Minggu, 26 September 2010

Nutrisi Awal dan Performansi Reproduksi

Pada domba, kekurangan nutrisi selama kehidupan fetus dan neonatal menurunkan litter size (reviewed by robinson, 1990). Komponen penting reproduksi adalah kelangsungan hidup saat lahir. Hal tersebut adalah bukti pada domba yang defisiensi cobalt sub-klinik selama awal kebuntingan, meskipun tidak berpengaruh terhadap bobot lahir domba, adalah berhubungan dengan penurunan vigour domba saat lahir dan depresi pada kekebalan pasif terhadap penyakit (Fisher and MacPherson, 1991). Saat mekanisme terlibat belum diidentifikasi, perbaikan defisiensi cobalt pada saat bunting tidak dapat memperbaiki vigour saat lahir. Bishonga et al. (1994) menemukan bahwa ketika konsentrasi amonia plasma ditingkatkan (100 - 150 μmol l -1) menyebabkan tingginya insiden kematian embrio, hal tersebut juga menimbulkan oversize fetus dari padanya yang bertahan hidup. Fenomena oversize fetus belum dibatasi meskipun pada kultur embrio in vitro tapi mungkin muncul dari pengaruh nutrisi in vivo.



http://www.google.com/buzz/post?url=&imageurl=

Teknik Diagnosa Secara Fisik

Penyakit dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu penyakit menular yang dapat menyebar dari satu ternak ke ternak lainnya dan penyakit tidak menular yaitu penyakit yang biasanya hanya terbatas pada satu kelompok tertentu atau bersifat individual. Berdasarkan agen penyebabnya, kelompok penyakit menular dibagi menjadi (a) kelompok penyakit viral yaitu penyakit yang disebabkan virus misalnya ND, Marek, Gumboro, PMK dan lain-lainnya, (b) kelompok penyakit bakterial yaitu penyakit yang disebabkan bakteris misalnya CRD, Snot, Pullorum, Brucellosis dan lain-lainnya, (c) kelompok penyakit Parasiter yaitu penyakit yang disebabkan parasit misalnya Coccidiosis, Ascariasis, Scabies dan lain-lainnya, dan (d) kelompok penyakit fungal yaitu penyakit yang disebabkan jamur misalnya Aspergillosis, Candidiasis dan lain-lainnya. Penyakit tidak menular, berdasarkan penyebabnya dapat dibagi menjadi (a) kelompok penyakit defisiensi, penyakit yang disebabkan karena kekurangan unsur dalam zat pakannya misalnya defisiensi vitamin, mineral dan lainnya, (b) kelompok penyakit intoksikasi, keracunan misalnya intoksikasi insektisida, pestisida dan lainnya, (c) penyakit metabolik, yang disebbkan adanya gangguan metabolik misalnya bloat atau kembung perut, (d) penyakit genetis, yang disebabkan keturunan misalnya osteodystropia dan (e) penyakit mekanis karena terkena benda-benda keras seperti fraktur, terjepit dan lainnya. 
Diagnosa adalah suatu proses untuk menentukan dan mengamati perubahan yang terjadi pada ternak melalui tanda-tanda atau gejala yang terlihat sehingga suatu penyakit dapat diketahui penyebabnya. Untuk menghasilkan diagnosa yang baik diperlukan pengetahuan zooteknis peternakan, anatomi dan fisiologi yang baik. Ketepatan diagnosa tergantung pada (a) sejauhmana anamnese dilakukan secara baik, (b) gejala klinis yang nampak atau teramati, (c) pemeriksaan nekropsi, dan (d) kecepatan pemeriksaan laboratorium.
Definisi Hewan Sehat Secara umum penyakit hewan adalah segala sesuatu yang menyebabkan hewan menjadi tidak sehat. Hewan sehat adalah hewan yang tidak sakit dengan ciri-ciri (a) bebas dari penyakit yang bersifat menular atau tidak menular, (b) tidak mengandung bahan-bahan yang merugikan manusia sebagai konsumen, dan (c) mampu berproduksi secara optimum.
Salah satu bagian penting dalam penanganan kesehatan ternak adalah melakukan pengamatan terhadap ternak yang sakit melalui pemeriksaan ternak yang diduga sakit yaitu suatu proses untuk
menentukan dan mengamati perubahan yang terjadi pada ternak atau hewan melalui tanda-tanda atau gejala fisik yang terlihat sehingga suatu penyakit dapat diketahui penyebabnya. Secara visual ternak sakit dan sehat dapat dibedakan sebagai berikut: 

Ternak Sehat
  • Ternak aktif, lincah, mata jernih, bulu halus, bersih dll 
  • Nafsu makan normal 
  • Pertumbuhan baik 
  • Dari lubang alami tidak keluar cairan atau feses abnormal
  • Jalannya normal 
  • Tidak ada luka di tubuh
Ternak Sakit
  • Ternak kurang aktif/lincah, mata sayu/pucat, bulu kusam dll
  • Kurang nafsu m akan
  • Pertumbuhan kurang baik atau tidak normal
  • Keluar leleran atau lendir yang tidak normal dari lubang-lubang alami (seperti hidung, telinga dll) misalnya pilek, diare/mencret dll
  • Jalannya pincang
  • Ada luka, gatal dll
Diagnosa penyakit memerlukan pengamatan spesimen di laboratorium agar penyebab penyakit dapat diketahui secara tepat. Spesimen adalah segala sesuatu (benda, organ, feses, atau darah dan lain-lainnya) yang diduga mengandung kuman bibit penyebab penyakit. Prinsip dasar pengumpulan spesimen adalah (1) jenis spesimen yang dikirim tergantung pada perubahan klinis ternak sakit, (2) spesimen harus dikirimkan dalam keadaan aseptik, (3) harus segera dikirimkan ke laboratorium, (4) botol harus diberi identitas yang jelas, (5) harus tersimpan secara baik, dan (6) selama proses pengambilan spesimen harus hati-hati terhadap kemungkinan pencemaran.

Pengendalian Penyakit

Pengendalian penyakit adalah usaha untuk melindungi ternak dan manusia melalui sistem pencegahan dan pengobatan terhadap gangguan penyakit baik yang bersifat menular maupun tidak menular. Pengendalian penyakit hewan adalah upaya mengurangi hubungan antara penyebab penyakit sampai pada tingkat dimana hanya sedikit hewan yang sakit, karena jumlah penyebab penyakit telah dikurangi atau dimatikan. Hewan telah dilindungi atau penyebab penyakit pada hewan tersebut dapat dicegah. Dalam pemeliharaan ternak, salah satu penghambat yang sering dihadapi adalah penyakit. Bahkan tidak jarang peternak mengalami kerugian dan tidak lagi beternak akibat adanya kematian pada ternaknya. Upaya pengendalian penyakit pada hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan pendapatan melalui cara pemeliharaan yang baik, sehingga peternak memperoleh pendapatan secara maksimal. Upaya pengendalian penyakit dapat dilakukan melalui usaha pencegahan penyakit dan atau pengobatan pada ternak yang sakit. Namun demikian usaha pencegahan dinilai lebih penting dibandingkan pengobatan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam upaya pengendalian penyakit antara lain (a) menjaga kesehatan ternak, (b) mempertahankan penampilan ternak agar tetap baik, (c)memperhatikan komposisi bahan pakan, (d) Ketersediaan zat nutrisi yang baik dan seimbang dan (e) mengoptimalkan pemakaian limbah pertanian yang ada. Ukuran Keberhasilan Pengendalian Penyakit
Untuk mengukur keberhasilan pengendalian penyakit dalam usaha peternakan maka peternak harus memperhatikan beberapa hal di bawah ini, yaitu:
  1. Angka sakit (morbiditas), diukur dari banyak tidaknya jumlah ternak yang sakit.
  2.  Angka Kematian (mortalitas), diukur atau diamati oleh banyak tidaknya jumlah ternak yang mengalami kematian.
  3. Angka kecelakaan atau kasus yang terjadi misalnya patah tulang, jatuh dll 
  4. Jumlah kelahiran ternak/tingkat reproduksi dicapai.
  5. Pencapaian pertambahan bobot badan
  6. Kejadian penyakit yang berulang dalam satu musim
  7. Kerusakan karkas atau daging
Beberapa prinsip dasar yang harus dilakukan oleh peternak berkaitan
dengan program kesehatan ternak antara lain:
  1.  Mencegah timbulnya suatu organisme penyebab penyakit. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah munculnya bibit penyebab penyakit antara lain (a) melakukan sanitasi/kebersihan secara baik, benar dan teratur, (b) biasakan memisahkan ternak yang baru datang terlebih dahulu untuk beberapa saat, (c) menjaga lingkungan tetap baik dan (d) jika perlu ternak yang sering sakit-sakitan dikeluarkan.
  2. Menjaga agar ketahanan tubuh ternak tetap baik Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain (a) jagalah kebutuhan pakan) untuk tetap baik, cukup dan seimbang, (b) jika di daerah tersebut sering muncul penyakit menular, kontak dengan petugas setempat untuk diupayakan adanya vaksinasi, dan (c) biasakan melakukan program seleksi ternak secara baik dan teratur. 
  3. Mengurangi penyebaran penyakit Beberapa hal yang dapat dilakukan ialah (a) jika ada ternak yang sakit harus segera dipisahkan, (b) segera lakukan pengamatan secara mendalam pada ternak-ternak yang lain apakah ada tandatanda sakit atau tidak misalnya tingkah laku ternak, tanda-tanda fisiknya, nafsu makan dan sebagainya, dan (c) jika perlu upayakan pengobatan sementara. 
  4. Melakukan sistem pencatatan (produksi dan reproduksi) secara teratur.

Senin, 20 September 2010

Deskripsi dan Sifat Rumput Gajah

King Grass. Berumur sekitar 2 minggu setelah panen.
Nilai pakan rumput gajah dipengaruhi oleh perbandingan (rasio) jumlah daun terhadap batang dan umurnya. Kandungan nitrogen dari hasil panen yang diadakan secara teratur berkisar antara 2-4% Protein Kasar (CP; Crude Protein) selalu diatas 7% untuk varietas Taiwan, semakin tua CP semakin menurun)Pada daun muda nilai ketercernaan (TDN) diperkirakan mencapai 70%, tetapi angka ini menurun cukup drastis pada usia tua hingga 55%. Batang-batangnya kurang begitu disukai ternak (karena keras) kecuali yang masih muda dan mengandung cukup banyak air.
Rumput ini secara umum merupakan tanaman tahunan yang berdiri tegak, berakar dalam, dan tinggi dengan rimpang yang pendek. Tinggi batang dapat mencapai 2-4 meter (bahkan mencapai 6-7 meter), dengan diameter batang dapat mencapai lebih dari 3 cm dan terdiri sampai 20 ruas / buku. Tumbuh berbentuk rumpun dengan lebar rumpun hingga 1 meter. Pelepah daun gundul hingga berbulu pendek; helai daun bergaris dengan dasar yang lebar, ujungnya runcing.
Rumput gajah merupakan tumbuhan yang memerlukan hari dengan waktu siang yang pendek, dengan fotoperiode kritis antara 13-12 jam. Namun kelangsungan hidup serbuk sari sangat kurang sehingga menjadi penyebab utama dari penentuan biji yang lazimnya buruk. Disamping itu, kecambahnya lemah dan lambat. Oleh karenanya rumput ini secara umum ditanam dan diperbanyak secara vegetatif. Bila ditanam pada kondisi yang baik, bibit vegetatif tumbuh dengan cepat dan dapat mencapai ketinggian sampai 2-3 meter dalam waktu 2 bulan.

Rumput gajah ditanam pada lingkungan hawa panas yang lembab, tetapi tahan terhadap musim panas yang cukup tinggi dan dapat tumbuh dalam keadaan yang tidak seberapa dingin. Rumput ini juga dapat tumbuh dan beradaptasi pada berbagai macam tanah meskipun hasilnya akan berbeda. Akan tetapi rumput ini tidak tahan hidup di daerah hujan yang terus menerus. Secara alamiah rumput ini dapat dijumpai terutama di sepanjang pinggiran hutan.

Perkembang biakan vegetatif dilakukan baik dengan cara membagi rumpun akar dan bonggol maupun dengan stek batang (minimal 3 ruas, 2 ruas terbenam di tanah). Hal ini dapat dilakukan dengan tangan atau dengan peralatan seperti yang dilakukan pada penanaman tebu. Jarak antar barisan berkisar antara 50 – 200 cm. di daerah yang lebih kering jaraknya lebih lebar. Jarak dalam barisan bervariasi mulai dari 50 – 100 cm. penanaman yang dicampur dengan tanaman lain semisal ubi kayu dan pisang sering dilakukan di kebun rumah.

Untuk mendapatkan hasil dan ketahanan tinggi, rumput ini ditanam dengan pengairan yang teratur dan pemupukan yang cukup. Pemupukan yang banyak diterapkan biasanya bila rumput sering dipotong / dipanen.

Kandungan nutrien setiap ton bahan kering adalah N:10-30 kg; P:2-3 kg; K:30-50 kg; Ca:3-6 kg; Mg dan S:2-3 kg. dengan hasil bahan kering tiap tahun 20-40 ton/Ha, karenanya banyak zat diserap dari tanah. Jika tidak dipupuk hasilnya akan segera menurun drastis dan gulma akan menyerang. Walaupun rumput gajah jarang ditanam dengan polong-polongan (legume), namun tetap dapat dikombinasikan dengan baik.

Penyakit yang biasa menyerang yaitu kutu Helminthosporium sacchari. Tindakan yang paling baik untuk mencegahnya adalah dengan menggunakan kultivar yang tahan penyakit tersebut. Namun demikian secara umum kami tidak menemukan serangan hama pada rumput gajah yang ditanam. Kebanyakan hanya merupakan serangan belalang dan ulat yang masih bisa di tolerir.

Rumput gajah dapat dipanen sepanjang tahun. Biasanya rumput ini diberikan dalam bentuk segar, tetapi dapat juga diawetkan sebagai silase. Hasil bahan kering setiap tahun diharapkan berkisar 2 - 10 ton/hektar untuk tanaman yang tidak dipupuk atau dengan pupuk yang sedikit, tetapi yang menggunakan banyak pupuk N dan P hasilnya berkisar antara 6 - 40 ton/hektar.

Prospek rumput gajah cukup baik bila dilakukan pemupukan yang baik pula. Dengan memanen pada pertumbuhan yang masih muda atau dengan menggunakan kultivar yang baik akan mencapai nilai pakan yang tinggi. Keuntungan dari jenis ini adalah kemampuannya berproduksi, dapat ditanam dalam jumlah besar atau kecil, dan dapat diusahakan secara mekanis atau juga untuk pertanian/peternakan skala kecil.
Jenis Kultivar di Indonesia
Rumput gajah semuanya merupakan introduksi dan bukan jenis rumput lokal. Kultivar rumput gajah tersebut adalah King Grass (P. purpureum cv. King Grass), Taiwan (P. purpureum cv. Taiwan), Hawaii (P. purpureum cv. Hawaii) dan Africa (P. purpureum cv. Africa). Namun karena memang bentuknya yang satu sama lain sangat mirip, agak sulit membedakannya (setidaknya bagi mata awam seperti kami).
Namun demikian ada sedikit panduan yang diberikan oleh rekan di BIB Lembang untuk menentukan berbagai kultivar tersebut.

Bercak hijau muda di sekitar pangkal daun King Grass

King grass Berumur sekitar 8 bulan sejak hari tanam
King: Batang dan daunnya paling raksasa (karena itulah dia disebut King Grass), daunnya berbulu kasar dan akan terasa perih bila memanen rumput ini tanpa menggunakan baju tangan panjang (percayalah, penulis sudah merasakannya). Batangnya keras. Produktivitas tinggi, menurut pengamatan kami dapat mencapai 200 - 250 ton per hektar per tahun. Pada daun muda, pangkal daunnya memiliki bercak bercak berwarna hijau muda.
Taiwan: Cukup raksasa, dapat mencapai 4 -5 meter. Kultivar ini yang disenangi dan dianjurkan oleh BIB Lembang untuk ditanam. Batangnya lunak, daun lebar berbulu lembut, tingkat nutrisi cukup baik. Ciri ciri lain adalah pada batang muda pangkal batangnya bawah yang dekat ke tanah berwarna kemerah merahan. Namun beberapa rekan peternak di Lembang kurang menyukai kultivar ini karena lunaknya batang tersebut sehingga cenderung mudah roboh apabila diterpa angin kencang. Produktivitas tinggi, bisa mencapai 300 ton / hektar per tahun dengan kondisi pemupukan dan pemeliharaan optimal. Selain itu, Taiwan (juga King Grass) membutuhkan air yang cukup banyak. Pengamatan kami, produksi per rumpun bisa lebih dari 7 kilogram (basah) per panen.
Batang berwarna kemerah merahan merupakan ciri kultivar Taiwan
Batang rumput Taiwan yang besar tapi relatif lunak.
Africa: Batang kecil dan keras. Daun kecil. Tumbuh tunas tunas kecil pada ketiak batang. Sehingga apabila terbiasa melihat King Grass atau Taiwan yang sehat, melihat Africa seperti melihat rumput kerdil :) . Kultivar ini yang banyak ditanam di Manglayang Farm. Kenapa ? Hipotesa kami adalah kultivar ini yang pertama kali masuk dan dikembangkan di daerah Manglayang. Keunggulan dari Africa adalah kebutuhan airnya yang tidak terlalu banyak. Sehingga pada musim kering pun masih dapat tumbuh dengan cukup baik. Produktivitas tidak terlalu tinggi, menurut pengamatan kami hanya sekitar 1 -2 kilogram / rumpun (basah) per panen (sekitar 100 ton per hektar per tahun)
Rumpun rumput gajah Africa yang sudah tua batangnya yang kecil.
Jumlah Rumput gajah Afrika Yang banyak
Hawaii: Nah ini kultivar yang paling sulit membedakannya. Hawaii memiliki batang dan daun yang lunak tapi tidak terlalu besar. Lebih mirip ke Taiwan hanya lebih kecil. Tidak heran, karena kultivar ini merupakan induk dari kultivar Taiwan yang merupakan hibrid King Grass dengan Hawaii.

Sedangkan menurut literatur yang ada di Internet, kultivar yang ada di dunia banyak sekali, namun kultivar kultivar yang disebutkan di atas sulit sekali dicari referensinya, kecuali King Grass dan Taiwan. Disebutkan disana King Grass merupakan hasil silangan antara P. purpureum biasa dengan Pearl Millet (Pennisetum galucum).

Kultivar yang cukup menarik adalah tipe Dwarf (kerdil), yaitu Pennisetum purpureum cv. Mott. Disebutkan bahwa kultivar ini memiliki karakteristik perbandingan rasio daun yang tinggi dibandingkan batang. Berkualitas nutrisi tinggi pada berbagai tingkat usia dibandingkan jenis rumput tropis lainnya. Tahan kekeringan, dan hanya bisa di propagasi melalui metoda vegetatif. Menurut beberapa literatur, jenis ini sudah dibudidayakan di Indonesia, tapi sayangnya penulis belum berhasil menemukan contoh bibit. Ada yang punya ?

Metoda Penanaman
Seperti telah disinggung diatas, penanaman rumput gajah dilakukan dengan metoda perbanyakan vegetatif. Cara yang umum diterapkan adalah dengan stek batang dan memecah anakan. Cara yang pertama memungkinkan perbanyakan dengan lebih cepat, namun agak sedikit lebih lambat pertumbuhannya dibandingan dengan cara anakan atau pols. Cara penanaman yang biasa kami lakukan adalah sebagai berikut:

1. Pengolahan Lahan
Proses penanaman rumput gajah dimulai pada dengan pengolahan lahan yaitu dengan melakukan pembersihan lahan dari tanaman gulma, memisahkan bibit yang masih dapat digunakan untuk kemudian dilakukan pembalikan tanah serta pembuatan ulang dan rekondisi galur tanam.

2. Pupuk Dasar dan Penanaman
Setelah melakukan pengolahan lahan, dilanjutkan dengan pemupukan dasar menggunakan pupuk kandang (manure sapi) sekira 3 ton (± 1 ton/ha) dan dilanjutkan dengan mengguludkan lahan tanam.
Kemudian dilakukan penanaman dengan metoda stek batang. Untuk satu rumpun ditanam minimal 3 batang, yang masing masing batang terdiri sekurangnya dari 3 ruas. Kami mengusahakan 2 ruas terbenam di dalam tanah.
Penanaman rumput gajah di Tegal Tengah
Penanaman rumput gajah di Tegal Tengah
3. Pemupukan Kedua
Pemupukan kedua dilakukan 2 minggu setelah tanam dengan menggunakan pupuk NPK (16:16:16) dengan dosis 60 kg / hektar. Pemupukan kedua ini biasanya dibarengi dengan penyaueran (menimbunkan tanah dan rumput liar untuk meninggikan guludan).

4. Pemupukan Lanjutan
Pemupukan kimia selanjutnya dilakukan pada musim hujan yang akan datang. Untuk selanjutnya diharapkan pemupukan cukup dengan menggunakan pupuk kandang sebanyak 2 kali per tahun, 1 kali pada musim hujan, dan 1 kali pada musim kemarau.

5. Pemeliharaan
Pemeliharaan pada tahun pertama dapat di rinci sebagai kegiatan pemupukan dan penyiangan/pembersihan gulma seperti berikut (pada lahan 3.2 hektar):

Pemupukan
Pupuk Kandang 3 hari x 4 orang x 2 kali per tahun = 24 Hari Orang Kerja (HOK)
Pupuk Kimia 1 hari x 4 orang x 1 kali per tahun = 4 HOK

Penyiangan
3 hari x 4 orang x 2 kali per tahun = 24 HOK
Sehingga total pemeliharaan pada tahun pertama adalah 52 HOK
Sedangkan pada tahun kedua dan selanjutnya karena diharapkan sudah tidak menggunakan pupuk kimia maka yang dibutuhkan hanya 48 H.O

Pola Tanam
Pola tanam menggunakan berbagai metoda. Ada yang menggunakan metoda lorong polikultur (alley cropping) dengan tanaman sela, ada juga yang menggunakan sistem monokultur / tunggal.
Pada pola lorong, rumput gajah ditanam dengan tanaman sela jagung (Zea mays), Sorghum (Sorghum bicolor L. Moench) atau Kacang Tanah (Arachis hypogaea) menggunakan jarak dalam barisan ± 50 cm dan jarak antar barisan ± 250 cm (50 x 250 cm).
Penanaman rumput gajah dengan pola lorong (Alley Cropping)
Diproyeksikan jumlah baris dapat mencapai sekitar 100 baris, dimana setiap baris dapat mencapai rata rata 259 rumpun, sehingga total dalam lahan tersebut mampu menampung rumpun sebanyak 25.900 rumpun.
Namun kenyataan di lapangan setelah dilakukan penghitungan rumpun, efektif tertanam hanya 9.686 rumpun (37%) sehingga rata rata penyebaran rumpun per hektar nya hanya mencapai 2866 rumpun (total 121 baris x ± 80 rumpun) dengan total luasan efektif tertanam rumput gajah hanya 8.100 m2. Kondisi ini disebabkan luasan efektif yang dapat ditanami berkurang selain akibat adanya tanaman sela, juga disebabkan berbagai kondisi lapangan yang kurang menguntungkan dan tidak dapat ditanami, seperti adanya genangan/rawa, tanah berbatu, adanya embung dan bak serta lahan yang sudah ditanami leguminosa jenis Gamal (Gliricidia sepium) dan tanaman lain.
Sedangkan pola tanam yang menggunakan pola monokultur dan lebih rapat. Hal ini tentu berkaitan dengan treatment dan perawatan yang optimal yang perlu diberikan. Jarak tanam dalam barisan berkisar 70-100cm dan jarak antar barisan 70-100cm.
Penanaman rumput gajah dengan pola monokultur
Pemanenan
Pada musim penghujan secara umum rumput gajah sudah dapat dipanen pada usia 40 - 45 hari. Sedangkan pada musim kemarau berkisar 50 - 55 hari. Lebih dari waktu tersebut, kandungan nutrisi semakin turun dan batang semakin keras sehingga bahan yang terbuang (tidak dimakan oleh ternak) semakin banyak.
Sedangkan mengenai panen pertama setelah tanam, menurut pengalaman kami dapat dilakukan setelah rumput berumur minimal 60 hari. Apabila terlalu awal, tunas yang tumbuh kemudian tidak sebaik yang di panen lebih dari usia 2 bulan.
Pemanenan di musim hujan (usia sekitar 40 harian)
Satu hal yang perlu diperhatikan adalah nilai investasi dan biaya operasional rumput gajah yang tinggi.
Hal ini disebabkan biaya olah lahan, penanaman, pemupukan, perawatan dan pemanenan rumput gajah yang cukup mahal tanpa dibarengi dengan nilai ekonomis dari rumput gajah.
Seperti diketahui, saat ini rumput gajah belum dianggap sebagai komoditi ekonomi yang biasa di perjual belikan. Terutama pada musim hujan. Pada musim kemarau, di beberapa sentra sapi (terutama sapi perah) rumput ini sudah mulai memiliki nilai ekonomis.

Tapi tetap akan berbeda dengan nilai ekonomis yang bisa diperoleh apabila lahan yang ada ditanami dengan berbagai tanaman produktif baik musiman maupun tanaman keras.
Operasional akan semakin tinggi apabila lahan penanaman rumput terletak jauh dari kandang, sehingga akan menaikkan upah dan ongkos angkut yang harus dibayarkan untuk pemeliharaan dan panen.

Beberapa solusi (yang tidak semuanya dapat secara praktis dilakukan) adalah:

1. Penanaman rumput gajah harus dilakukan di areal yang dekat dan sekitar kandang sehingga dapat dengan mudah terjangkau oleh anak kandang/peternak selain itu juga dapat dengan mudah (dan murah) dilakukan pemupukan (dari pupuk kandang).

2. Meningkatkan produksi protein bagi kebutuhan ternak per luasan areal tanam. Seperti diketahui, nutrisi terutama protein rumput gajah tidak terlalu bagus. Caranya bisa dengan mengkombinasikan rumput gajah dengan tanaman leguminosae semak berprotein tinggi seperti Lamtoro (Leucaena leucocephala), Kaliandra (Calliandra calothrysus) dan Gamal (Gliricidia sepium). Atau dengan legum merambat seperti Kacang Sentro (Centrosema pubescens), KembangTelang (Clitoria ternatea), dan Kacang Ruji (Pueraria phaseoloides). Selain sebagai sumber fiksasi nitrogen dan penyubur tanah, juga sebagai pakan tambahan yang sangat berguna bagi ternak.
Gamal, tanaman kombinasi yang baik
3. Meningkatkan nilai ekonomi lahan dengan melakukan penanaman rumput gajah dengan metoda lorong pada tanah yang relatif datar dan metoda sengked pada tanah berkontur miring.
Tanaman sela harus yang memiliki nilai ekonomis tinggi, misalnya jenis tanaman semusim seperti Jagung (Zea mays), Kacang Tanah (Arachis hypogaea), Sorghum (Sorghum bicolor, Sorghum vulgare).
Dapat juga digabung dengan tanaman keras seperti Sengon (Albizzia falcata), Suren (Toona sureni) dan sebagainya yang disesuaikan dengan kapasitas dan karakter lahan.

4. Perlulah kiranya di pikirkan lebih lanjut mengenai metoda produksi rumput gajah, baik penanaman, pemeliharaan dan pemanenan yang lebih efisien dan berdaya guna.


Hijauan Pakan Ternak

Bahan pakan untuk sapi dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu Hijauan dan Pakan Tambahan (Konsentrat). Untuk mendapatkan hasil produksi yang baik maka kedua macam bahan pakan ini harus diberikan, karena diharapkan dari kedua macam bahan pakan ini kebutuhan protein dapat terpenuhi.
HIJAUAN
Hijauan merupakan bahan pakan pokok yang biasanya dipenuhi dari rumput. Produksi susu sapi yang rendah dapat terjadi karena kuantitas dan kualitas rumput kurang baik terutama terjadi pada musim kemarau. Untuk mengatasi kekurangan rumput tersebut maka dapat dipakai bahan hijauan lain berupa daun kacang-kacangan (gliricidia, kaliandra, lamtoro, turi, enceng gondok dll) dan limbah pertanian (jerami padi, batang jagung, kelobot jagung dll). Jumlah hijauan yang diberikan sebagai pakan sapi perah berkisar 50-75 % dari protein yang dibutuhkan atau perhitungan secara kasar kurang lebih 10 % berat badan.

 
 Daun - daunan Sebagai Pengganti Rumput

KALIANDRA (Calliandra calothyrsus)
Kaliandra adalah tanaman kacang-kacangan (leguminosa) semak yang dapat tumbuh pada musim kemarau walaupun tidak sebaik pertumbuhan dimusim hujan, terutama pada daerah berlereng curam. Untuk tumbuh ideal rata-rata temperatur yang diperlukan 20-28 derajat Celsius. Untuk tujuan sebagai sumber hijauan pakan ternak jarak tanam 1×1 meter atau 2×0,5 meter pada awal musim hujan. Pemotongan tanaman dilakukan setiap 12 minggu dengan tinggi potong 1 meter, produksi yang diperoleh 10 ton bahan kering/Ha/tahun.
Komposisi kimiawi kaliandra mengandung protein berkisar 20%, terdapat tanin 8-11%, saponin, flavonoid dan glikosida dalam jumlah kecil yang tidak membehayakan ternak.
Kaliandra dapat digunakan sebagai pengganti sebagian rumput yang diberikan. Pada sapi dapat menggantikan rumput maksimal 50%, sedangkan untuk domba sampai dengan 30%. Pemberian pada ternak sebaiknya dalam bentuk segar karena proses pengeringan akan menurunkan konsumsi dan kecernaanya, selain itu kandungan tanin dalam kaliandra segar kurang berbahaya untuk ternak. Kaliandra dapat diberikan saat sebelum atau sesudah pemberian pakan tambahan.

GAMAL (Glicidia sepium)
Gamal adalah tanaman leguminosa yang dapat tumbuh dengan cepat didaerah kering. Gamal tumbuh baik pada daerah dengan temperatur 22-40 derajat celcius. Sebagai sumber hijauan pakan ternak sebaiknya ditanam dengan jarak 1×1 meter dengan interval pemotongan 6-12 minggu, sedangkan pemotongan pertama dilakukan pada 10-20 minggu. Cara tanam dapat dilakukan dengan stek maupun biji, hasil produksi yang diperoleh berkisar antara 19 ton/ha/tahun.
Komposisi kimiawi gamal mengandung protein 19-25%, mengandung racun kumarin yang tinggi, saponin dan asam fenolat dalam jumlah kecil. Gamal dapat digunakan sebagai pengganti sebagian rumput, pemberian pada sapi maksimal sampai 40%, sedangkan pada domba sampai dengan 75%. Untuk menurunkan kandungan kumarin maka sebelum diberikan pada ternak sebaiknya dilayukan atau dijemur lebih dahulu selama beberapa jam atau semalaman. Sebaiknya gamal diberikan bersama-sama dengan pemberian rumput.

LAMTORO GUNG (Leucaena leucocepala)
Lamtoro merupakan salah satu leguminosa tropis yang tahan dengan pemotongan berulang-ulang. Produksinya 20 ton bahan kering/Ha/tahun. Komposisi kimiawi lamtoro mengandung protein, zat tanin yang cukup baik untuk pakan ternak dan mengandung racun mimosin yang tinggi. Sebagai hijaunan pakan ternak, untuk mengurangi kandungan mimosin maka harus dijemur sehari lebih dahulu.
Lamtoro dapat digunakan sebagai pengganti sebagian rumput. Pemberian pada sapi perah sampai 50% dapat menyebabkan air susu bau khas walaupun dapat meningkatkan kandungan lemak dan produksinya.

TURI (Sesbania glandiflora)
Turi merupakan golongan leguminosa yang disukai ternak dan buangannya disukai penduduk. Turi tahan terhadap pemotongan berulang-ulang. Produksinya dapat mencapai 20 ton bahan kering/Ha/tahun.
Turi mengandung protein tinggi yaitu 36% dan mengandung energi lebih tinggi dibanding kaliandra, lamtoro dan gamal. Turi mengandung racun saponin yang sangat tinggi sehingga membahakan ternak, terutama pada ternak golongan ayam. Turi dapat diberikan pada golongan sapi dan domba sebagai pengganti sebagian rumput. Pemberian sampai dengan 2 kilogram pada domba dapat meningkatkan berat badan 300% dibanding yang diberi rumput gajah saja. Sedangkan pada sapi yang diberi 2 Kg dicampur jerami dapat menghasilkan berat badan sama dengan pemberian ransum yang sempurna.

SORGUM (Sorghum vulgare)
Sorgum termasuk tanaman yang diambil bijinya, limbah tanaman ini dapat digunakan sebagai pakan ternak. Tanaman sorgum dapat tumbuh pada daerah dengan temperatur tinggi dan kurang curah hujan. Sebagai pakan ternak sebaiknya ditanam awal musim kering. Kandungan protein sorgum berkisar 7,5 – 8,2%, sorgum ini mengandung racun asam sianida yang dapat dihilangkan dengan dibuat hay dan silase.
Sorgum dapat digunakan sebagai penganti rumput. Adanya asam sianida dalam sorgum maka pemakaian pada sapi jangan terlalu tinggi (10-20)% dengan dibuat hay atau silase.

JERAMI
Jerami dapat berasal dari sisa hasil pertanian misalnya jerami padi, jerami kedelai, jerami kacang tanah dll.
Kandungan protein jerami tidak tinggi hanya berkisar 5-10% dengan kandungan serat kasar yang sangat tinggi. Jerami dapat diberikan pada sapi untuk menggantikan rumput, pemberian pada sapi jangan lebih dari 20%.

Minggu, 19 September 2010

Sperma Sapi Jantan Untuk Perawatan Rambut

Sperma sapi jantan untuk perawatan rambut rusak merupakan salah satu layanan untuk rambut yang rusak di Hari’s Salon, london yang mengombinasikan sperma sapi jantan dan katera akar tanaman dari Iran yang kayaprotein yang digunakan untuk merawat rambut rusak. Perawatan yang bernama Aberdeen Organic Bull Sperma ini diklaim efektif untuk menyuburkan rambut, melindungi, dan merawat rambut rusak.

Sapi Pertama Kali Menggunakan Kaki Palsu


Inilah Sapi pertama yang menggunakan kaki palsu Meadow adalah nama seekor anak sapi pertama kali di dunia yang mengunakan dua kaki belakang palsu agar bisa kembali berjalan normal. Kaki Meadow terpaksa diamputasi karena kedua kuku kakinya mengalami frostbite (membusuk akibat kebekuan es).

Sapi kaki  palsu +HAXIMS Sapi pertama yang menggunakan kaki palsu
Sapi yang kini berumur 11 bulan ini ditemukan pada Agusus lalu oleh Nancy Dickenson dan anaknya di sebuah ladang penggembalaan di timur laut New Mexico, Amerika Serikat (AS). Saat ditemukan, Meadow nyaris tidak bisa berdiri karena kedua kuku kaki belakangnya membusuk akibat kebekuan es. Untuk menyelamatkan Meadow agar bisa berjalan normal, Dickenson pun membeli hewan ternak dari pemiliknya dan segera membawa ke dokter hewan setempat.

Dokter hewan, dibantu mahasiswa Colorado State University, mengamputasi kedua kaki belakang Meadow dan menyiapkan kaki palsu yang sesuai dengan struktur tulang sapi. “Meadow merupakan sapi pertama di dunia yang memakai dua kaki palsu,” kata Robert Callan, dokter hewan yang mengoperasi Meadow.

Dickenson menyatakan biaya operasi kaki palsu bagi Meadow mencapai ribuan dolar dan ditanggung penuh oleh dirinya dan keluarga. Nama Meadow yang berarti padang rumput ini diberikan Dickenson sesuai dengan lokasi saat sapi jenis black angus ini ditemukan.

Kini Meadow bisa berlari dan menyesuaikan diri dengan hewan ternak lain di Twin Willow, peternakan milik Dickenson

Sabtu, 18 September 2010

Sektor Peternakan Australia Klaim Impor Sapi Sudah Legal

Pemerintah Australia mengklaim 2.156 sapi asal negaranya yang diimpor PT Sasongko Prima masuk ke Indonesia secara resmi atau legal. Namun, Kementerian Pertanian yakin impor sapi tersebut ilegal. Ada surat dari Menteri Pertanian Australia yang menjelaskan bahwa 2.159 sapi itu legal. Kita akan kirim surat balasan dan melakukan investigasi lanjutan," kata Menteri Pertanian Suswono di Jakarta, akhir pekan lalu.

Suswono tetap yakin 2.156 sapi itu ilegal. Pasalnya, hasil audit investigasi yang dilakukan Kementerian Pertanian menemukan bukti bahwa surat persetujuan pemasukan (SPP) impor PT Sasongko Prima sudah kedaluwarsa sejak 30 April 2010. Suswono menambahkan dalam surat balasan nanti pihaknya akan meminta agar Menteri Pertanian Australia dapat menghormati aturan Indonesia. "Dan kita akan tetap memberikan sanksi kepada importir untuk merekespor sapi tersebut," sebut dia.

Kepala Badan Karantina Kementerian Pertanian, Hari Priyono, mengungkapkan importir sudah bersedia mereekspor sapinya. "Tetapi untuk saat ini kita belum tahu akan diekspor ke negara mana, kita masih menunggu kepastian negara tujuan ekspornya." Di sisi lain, Keputusan Kementerian Pertanian menghentikan izin impor selama enam bulan kepada importir dinilai sebagai sanksi yang lemah.

"Kalau ada unsur melanggar hukum harusnya diajukanke kepolisian dan kejaksaan, tetapi sejauh ini kementerian menilai kasus ini sebagai pelanggaran kecil," kata Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Teguh Boediyana, Minggu (6/6). Teguh menyebut Kementerian Pertanian seperti melindungi seseorang dari perusahaan importir. Untuk itu, kasus tersebut diharapkan diinvestigasi lebih lanjut.

Dia juga mengatakan surat Menteri Australia yang mengklaim sapinya legal bisa terjadi karena pihak Australia tidak bisa membedakan legalitas surat SPP yang dipegang importir. "Bisa jadi SPP-nya dipalsukan," tukas Teguh.

Aturan Main Dirjen Peternakan Kementerian Pertanian Tjepy Sudjana menyebutkan kasus sapi impor ilegal dari Australia merupakan kasus pertama. "Kita akan perketat dan lakukan evaluasi. Kita berharap sapi impor yang masuk sesuai kebutuhan dan importir mengikuti aturan main," tegas dia.

Sanksi yang dikenakan kepada importir, kata Tjepy, akan disesuaikan dengan tingkat kesalahan. "Jadi kita punya banyak sanksi, di Peraturan Menteri Pertanian (Permentan No 7/2008) ada teguran tertulis, pelarangan distribusi, pemusnahan, hingga pencabutan izin usaha," imbuh dia. Data Kementerian Pertanian mengungkapkan hingga Mei 2010, SPP sapi bakalan yang dikeluarkan sebanyak 319.408 ekor, sedangkan realisasinya sebanyak 222.006 ekor sapi. aan/E-2

Jumat, 17 September 2010

Limousin

Sapi Limousin adalah bangsa Bos taurus (Talib dan Siregar, 1999), dikembang-kan pertama di Perancis, merupakan tipe sapi pedaging dengan perototan yang lebih baik dari Simmental, warna bulu coklat tua kecuali disekitar ambing berwarna putih serta lutut kebawah dan sekitar mata berwarna lebih muda
Bentuk tubuh sapi jenis ini adalah besar, panjang, padat dan kompak.
Keunggulan dari jenis sapi ini pertumbuhan badannya yang sangat cepat
Secara genetik, sapi Limousin adalah sapi potong yang berasal dari wilayah beriklim dingin, merupakan sapi tipe besar, mempunyai volume rumen yang besar, voluntary intake (kemampuan menambah konsumsi diluar kebutuhan yang sebenarnya) yang tinggi dan metabolic rate yang cepat, sehingga menuntut tata laksana pemeliharaan yang lebih teratur. Di Indnesia sapi limousin disilangkan dengan berbagai jenis sapi lain, seperti misalnya dengan sapi peranakan ongole, sapi brahman atau sapi hereford.
Limousin adalah generasi yang sangat tua, tetapi mungkin berasal mana saja 16.000-13.000 tahun yang lalu sebagai tanggal oleh gambar gua di Gua Lascaux Prancis. Ini dikembangkan di daerah Marche dan Limousin pusat Perancis selatan. Daerah ini relatif terisolasi dan berkembang biak ternak dibiarkan tumbuh dengan sedikit atau tanpa pengaruh eksternal. Karena lingkungannya, yang Limousin mencapai tahan banting superlatif dan kemampuan beradaptasi.

Pada 1700 dan 1800-an, ada upaya menghasilkan strain yang lebih besar dari Limousin. Ternak yang dihasilkan ketika sedang lebih besar juga diperlukan peningkatan jumlah pakan. Limousin besar ini bukan pilihan ekonomis sehingga ditinggalkan dan program pemuliaan diizinkan untuk berkembang secara alami, tujuan mereka yang kualitas yang lebih tinggi pada hewan berbingkai menengah.

Salah satu kunci program pemuliaan sapi milik Charles de Leobary, yang melalui seleksi ketat membentuk kawanan ternak yang pada waktu adalah lambang berkembang biak Limousin. Keberhasilan breedings nya menyebabkan Limousin yang dikenal sejak saat itu sebagai "binatang tukang daging" Perancis. Yang Limousin pertama Herd Buku ditulis pada tahun 1886. Its entri dipilih dengan cermat sehingga kurang dari setengah dari semua hewan mengajukan permohonan pendaftaran benar-benar diterima. Penerapan buku kawanan, mendorong penciptaan menunjukkan sapi Limousin eksklusif di Perancis.

Limousin sapi merupakan bagian dari keturunan sapi Eropa Kontinental. Ini keturunan sapi kadang-kadang dianggap eksotik di Amerika Serikat, sebagai pengantar mereka ke Amerika Utara jauh lebih dari keturunan Inggris yang paling. Para Limousin memasuki benua Amerika awalnya di Kanada pada tahun 1968. Banteng Limousin pertama yang diimpor ke Amerika Serikat pada tahun 1971 bernama Kansas Kolonel. Sebelumnya genetika Limousin yang didapat dengan semen impor, sebagian besar dari Kanada Pangeran nada warna merah muda. Amerika Utara Limousin Foundation, didirikan pada tahun 1968 saat ini asosiasi Limousin terbesar di dunia.

sapi Limousin menyoroti tiga ciri penting dalam berkembang biak mereka: efisiensi pakan yang sangat baik, adaptasi dan tinggi persentase karkas. Ternak merah atau berwarna emas pengumpul baik dan feedlots baik dapat mengkonversi pakan menjadi massa. Bangkai dari hasil Limousin cutability baik dan umumnya mengatakan bahwa mereka secara genetik "dipangkas". Daging empuk dan halus fibered karena tingkat mereka yang rendah lemak.
Titik dimana Limousin bisa didiskreditkan juga merupakan titik di mana peternak perusahaan telah mengambil inisiatif untuk secara dramatis meningkatkan berkembang biak. Karena medan sulit di mana Limousin berasal, ia mengembangkan temperamen stabil untuk menjamin kelangsungan hidupnya.

Limousins telah dikenal untuk membersihkan pagar yang tinggi dengan sangat mudah dan secara umum agak tak terduga. Pada tahun 1998, Amerika Utara Limousin Foundation menciptakan temperamen EPD. EPD ini menilai kepatuhan ternak memungkinkan peternak untuk memilih bagi ternak lebih tenang dan pemusnahan mereka yang terus dengan disposisi sulit. Berbicara kepada peternak dan peternak ternak, maka dengan cepat dicatat bahwa sifat ternak ini tidak sampai ke nominal dengan reputasi mereka. temperamen telah meningkat secara signifikan, begitu banyak bahwa beberapa memiliki ternak yang dapat "makan dari tangan mereka". Seseorang harus mempertimbangkan Limousin adalah hewan berotot yang tunggal gerakan akan mempunyai kesan yang lebih signifikan dari ternak massa yang lebih kecil. Sementara reputasi sebagai volatile bisa mendahului mereka, pengalaman dengan binatang ini akan melukis kesan berbeda.

Otot-otot berat dari Limousin adalah sifat yang sangat diwariskan. Salah satu yang paling sukses melintasi melibatkan Angus-itu adalah salib yang ideal bagi konsumen dan produsen. hybrid akan mendapatkan keuntungan dari Limousin berat muscling, efisiensi tinggi dan polledness Angus dan marbling. Dari sudut pandang konsumen daging sapi yang dihasilkan akan mencakup rasa Angus sangat diinginkan dan potongan lebih ramping dari Limousin.

Semua dalam semua, sapi Limousin memiliki banyak untuk menawarkan peternak. Mereka adalah sumber yang sangat baik untuk memperkenalkan massa ke dalam keturunan ringan dengan tetap mempertahankan bobot lahir relatif rendah. Hari-hari dari Limousin liar legendaris telah menarik lebih dekat dengan berakhir sebagai seleksi telah disukai hewan yang lebih handal. Dalam era dimana potongan lebih ramping daging sapi adalah standar, maka Limousin tidak boleh diabaikan sebagai pilihan yang sangat baik sapi potong.

Simmental

Sapi Simmental adalah bangsa Bos taurus (Talib dan Siregar, 1999), berasal dari daerah Simme di negara Switzerland tetapi sekarang berkembang lebih cepat di benua Eropa dan Amerika, merupakan tipe sapi perah dan pedaging, warna bulu coklat kemerahan (merah bata), dibagian muka dan lutut kebawah serta ujung ekor ber warna putih, sapi jantan dewasanya mampu mencapai berat badan 1150 kg sedang betina dewasanya 800 kg Bentuk tubuhnya kekar dan berotot, sapi jenis ini sangat cocok dipelihara di tempat yang iklimnya sedang, Persentase karkas sapi jenis ini tinggi, mengandung sedikit lemak.Dapat difungsikan sebagai sapi perah dan potong.
Secara genetik, sapi Simmental adalah sapi potong yang berasal dari wilayah beriklim dingin, merupakan sapi tipe besar, mempunyai volume rumen yang besar, voluntary intake (kemampuan menambah konsumsi diluar kebutuhan yang sebenarnya) yang tinggi dan metabolic rate yang cepat, sehingga menuntut tata laksana pemeliharaan yang lebih teratur. Sumber: infoternak.com)
Simmental dapat ditelusuri ke Bernese Oberland, dan dikenal sebagai awal Abad Pertengahan sebagai besar, ternak melihat. Dari sini, tersebar 'Simmentals' ke Swiss barat dan utara.
Simmental adalah salah satu yang lebih jinak dan mudah untuk mengelola keturunan, dikenal untuk Topline lurus panjang dengan sangat berotot punggung dan pinggang. Sedang untuk ternak besar dengan tulang yang kuat, sapi biasanya memiliki berat badan 2200-2800 pounds pada saat jatuh tempo dan sapi 1200-1600 pound. Perempuan yang memiliki masa produktif 10-12 tahun dan produksi susu tinggi. Simmental yang terlihat, kadang-kadang hanya dengan beberapa tanda-tanda putih. Warna bervariasi dari emas pucat ke coklat kemerahan gelap. Kepala biasanya putih di depan mata dengan bagian bawah kaki juga sebagian besar putih. Dalam feedyard mereka memiliki berat badan 2 sampai £ 3 hari dan konversi pakan yang sangat baik dengan persentase karkas sekitar 63%. Mereka cocok untuk semua tujuan-persimpangan dengan breeds.e kecil.

Shorthorn

Bangsa sapi ini berasal dari Inggris. Sapi shorthorn merupakan jenis sapi dwi guna karena menghasilkan daging dan produksi susunya tinggi.Tubuh dari shorthorn berwarna merah bata sampai putih atau dawuk merah (roan). Bangsa sapi ini ada yang bertanduk dan tidak bertanduk (polled shorthorn).Ciri cirinya adalahKepalanya pendek dan lebarTanduknya pendek mengarah ke samping dan ujungnya mengarah ke depanLehernya pendek dan besarBidang dada samping dan dada rataBahunya lebar, berdaging tebal dan kuat, rusuknya melengkung lebarGaris punggungnya lurus dan sampai pangkal ekor, pinggang lebarTubuhnya besar, badan samping rataarnanya merah tua sampai putihTingkat kesuburannya tinggi dengan sifat keindukan yang bagus. Tempramennya baik dan memiliki tingkat pertumbuhan yang cepat. Sapi shorthorn sanggup beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda-beda.Sapi jenis ini sering kali disilangkan dengan jenis sapi brahman dan hereford.
Shorthorn berasal dari Tees River Valley di bagian timur laut Inggris di county Northumberland, Durham, York dan Lincoln. Mereka dibawa ke Amerika pada tahun 1783 dan sangat populer dengan pemukim awal Amerika. Amerika Shorthorn Herd Buku diterbitkan pada tahun 1846 dan merupakan registri pertama untuk berkembang biak di Amerika Serikat. Lebih dari 30 keturunan lain dari ternak menunjukkan jejak Shorthorn dalam keturunan mereka, termasuk Santa Gertrudis, Angus dan perah Shorthorns.Meskipun warna berkisar dari merah ke roan menjadi putih, roan (campuran merah dan putih) dan merah adalah warna dominan. Mereka adalah jenis ukuran medium dengan bentuk yang benar-benar persegi panjang dengan kepala, pendek luas dan mata mengatur lebar. Dan, Anda menebak, mereka memiliki tanduk pendek. Shorthorns dikenal hingga jatuh tempo awal mereka, kemampuan beradaptasi, kemampuan pengasuhan, kinerja reproduksi, tahan banting, disposisi yang baik, konversi pakan, dan umur panjang. Dalam penggemukan itu, ternak ini mencapai 1.000 hingga 1.200 pon bobot pada usia dini dan tidak memiliki masalah menghasilkan karkas yang kelas Choice

Jenis Sapi Hereford

Bangsa sapi ini berasal dari Hereford (Inggris) dan dikenal sebagai white face cattle. Terdapat dua bangsa Hereford, yaitu sapi Hereford bertanduk yang merupakan bangsa sapi Hereford asli dan tidak bertanduk (polled Hereford). Tubuh sapi Hereford berwarna merah dengan bagian muka, dada, perut bagian bawah, kaki bagian bawah, dan rambut ekor berwarna putih. Ukuran tubuhnya sedang, tingkat pertumbuhannya sangat cepat dan produktivitasnya juga tinggi.Tingkat ketahanan dan kemampuan dalam merumput terbilang baik.Tempramennya baik, tulang kuat dan perdagingannya tebal.Sapi ini juga disilangkan dengan jenis sapi Brahman sehingga menghasilkan jenis Brahman Cross. Sapi ini adalah jenis sapi potong atau pedaging.
Herefords adalah berkembang biak kuno, disimpan di Herefordshire di Inggris barat selama berabad-abad. Mereka mendapatkan penampilan modern mereka sekitar 1800 oleh persimpangan dengan sapi dari Flanders. Awalnya, Herefords besar-besar sapi draft dibingkai, beberapa berat lebih dari 3.000 kilogram. Selama abad kesembilan belas ada pembiakan selektif untuk jatuh tempo awal, yang berarti pengurangan dalam ukuran dari frame. Buku kawanan pertama diterbitkan pada tahun 1846, dan kemudian diadopsi oleh 'Hereford Herd Buku Masyarakat', yang didirikan pada tahun 1878.

Hereford adalah sapi dibingkai sedang dengan warna tubuh merah khas dengan kepala dan depan leher, dada, bawah, dan beralih pada putih. Mereka telah berkembang dengan baik kedepan-perempat, sebuah Sandung lamur dalam, kepala yang luas dan kaki kekar. Sebagian besar hewan memiliki tanduk pendek yang tebal biasanya kurva down di bagian sisi kepala, tetapi ada ketegangan yang disurvei di Amerika Utara dan Inggris (polling Hereford).
Herefords umumnya jinak dan ternak berkembang cepat dengan kualitas daging sapi yang baik.

ANGUS

Sapi aberdeen Angus berkulit hitam pekat sehingga namanya mudah diingat dengan sebutan sapi Angus (Angus=hangus, gosong).Berasal dari suatu daerah dataran tinggi Abardeen Shire dan Aungushire di Skotlandia. Kemudian popular dengan sebutan Aberdeen Angus.Sapi ini tidak bertanduk dan berpunuk. Penampilannya pendek, bulat, lincah aktif bergerak. Bobot sapi betina dewasa mencapai 550-750 kg, sedangkan yang jantan mencapai 800-1.000 kg.Bangsa sapi ini banyak digunakan pada crossbreeding dan grading up untuk menghasilkan sapi potong yang baik. Jika sesame bangsa sapi angus dikawinkan dengan seperempat dari keturunannya, warna tubuhnya akan berubah menjadi merah dan tidak bertanduk (red angus).Sifat sapi Aberdeen Angus adalah Dominan. Sehingga sapi angus banyak dimanfaatkan untuk menghasilkan keturunan yang tidak bertanduk. Bentuk tubuh panjang dan kompak. Sifat keibuannya tinggi dan tidak ada kesulitan saat beranak. Masa pubertas dicapai dalam umur relative dini. Mempunyai kemampuan dalam menurunkan marbling (perlemakan dalam daging) ke anak-anaknya.Dagingnya padat dan halus sehingga banyak disukai konsumen.sapi jenis ini yang didatangkan ke Indonesia berasal dari Selandia Baru dan masuk Indonesia tahun 1974
Angus adalah sapi hitam solid, walaupun putih mungkin muncul di ambing. Mereka tahan terhadap cuaca yang keras, ringan, mudah beradaptasi, baik hati, jatuh tempo sangat awal dan memiliki persentase karkas tinggi dengan daging baik marmer. Angus terkenal sebagai anjing ras karkas. Mereka digunakan secara luas di persilangan untuk meningkatkan kualitas karkas dan kemampuan memerah susu. Angus perempuan melahirkan anak sapi dengan mudah dan memiliki kemampuan betis pemeliharaan yang baik. Mereka juga digunakan sebagai dehorner genetik sebagai gen yang disurvei diteruskan sebagai karakteristik dominan.

berkembang biak muncul di Skotlandia timur laut di kabupaten dari Aberdeen dan Angus. Penggalian telah mengungkapkan bahwa ternak yang disurvei ada di sana pada zaman prasejarah. pemuliaan disengaja dimulai pada akhir abad kedelapan belas. berkembang biak ini pertama kali secara resmi diakui pada tahun 1835 dengan buku kawanan pertama kali diterbitkan pada tahun 1862. Binatang pertama yang diekspor ke Amerika Serikat dan negara-negara lain pada tahun 1878.

Amerika Aberdeen-Angus Breeders 'Association (nama disingkat tahun 1950-an ke American Angus Association) didirikan di Chicago, Illinois, pada 21 November 1883, dengan 60 anggota. Pertumbuhan Asosiasi sejajar keberhasilan Angus berkembang biak di Amerika.

Pada abad pertama operasi, lebih dari 10 juta jiwa tercatat. The American Association Angus catatan sapi lebih setiap tahun dari setiap asosiasi daging sapi jenis lain, sehingga berkembang biak asosiasi daging sapi registry terbesar di dunia.

Angus Hibrida
Angus hibrida berwarna hitam ternak komposit disurvei terutama didasarkan pada genetika Angus Amerika dicampur dengan cukup Breed genetika Continental untuk menambah kinerja daging merah ke diakui secara luas Angus kualitas karkas dan karakteristik ibu. hibrida Angus telah menunjukkan kemampuan untuk menyampaikan kinerja kekuatan hibrida ke berbagai ternak termasuk keturunan murni sapi dibesarkan Angus.

Angus hibrida telah dikembangkan dalam jumlah kombinasi yang berbeda menggunakan berbagai benua karkas genetika berkembang biak untuk mencapai kinerja bangkai yang diinginkan. Benar Angus hibrida setidaknya 5 / 8 Amerika Angus dan sering memiliki sebanyak 3 / 4 darah Angus. Data yang dikumpulkan selama 10 tahun terakhir telah menunjukkan kinerja yang unggul bangkai bisa diharapkan tanpa pengorbanan dari sifat Angus normal genetik. Kebanyakan Angus hibrida memiliki data kinerja yang tersedia dan beberapa strain telah menunjukkan contoh yang tinggi kelembutan dan spidol gen marbling.

Peranakan Ongole - PO

Sapi putih atau PO (Peranakan Ongole) merupakan salah satu jenis sapi yang paling banyak dicari di pasaran.
Harganya yang relatif murah, mudah perawatannya sekaligus mudah untuk dijual kembali.
Bobot hidup bervariasi mulai 200 kg hingga mencapai sekitar 450 kg.

Sapi PO adalah bangsa sapi hasil persilangan antara pejantan sapi Sumba Ongole (SO) dengan sapi betina lo-kal di Jawa yang berwarna putih (Anonimus, 2003b). Saat ini sapi PO yang murni mu lai sulit ditemukan, karena telah banyak di silangkan dengan sapi Brahman, sehingga sapi POdiartikan sebagai sapi lokal berwarna putih (keabu-abuan), berkelasa dan gelambir. Sapi PO terkenal sebagai sapi pedaging dan sapi pekerja, mempunyai kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perbedaan kondisi lingkungan, memiliki tena ga yang kuat dan aktivitas reproduksi induknya cepat kembali normal setelah ber-anak, jantannya memiliki kualitas semen yang baik

Sapi PO pada hari normal berharga Rp.6.000.000 meningkat mencapai harga Rp.8.000.000-Rp.9.500.000. dengan bobot rata-rata 250-350 Kg.

BRAHMAN CROSS

Brahman Cross merupakan sapi hasil silangan antara Sapi Brahman dengan jenis sapi lainnya seperti Shorthorn dan Hereford.
Dengan pemeliharaan secara intensif yaitu dengan kandang yang sesuai dan pakan yang berkualitas serta iklim yang menunjang, sapi ini sangat bagus pertumbuhannya. Average Daily Gain (ADG) Brahman Cross berkisar antara 1.0 - 1.8 kg/hari. Bahkan dalam kondisi tertentu bisa mencapai 2 kg/hari. Dibandingkan dengan sapi lokal terutama PO (Peranakan Ongole) yang ADG nya hanya berkisar 0.4 - 0.8 kg/hari tentunya sapi ini lebih menguntungkan untuk fattening (penggemukan).
Karkas Brahman Cross bervariasi antara 45% - 55% tergantung kondisi sapi saat timbang hidup dan performance tiap individunya. Pemeliharaan ideal untuk fattening adalah selama 60-70 hari untuk sapi betina, sedangkan untuk jantannya antara 80-90 hari, karena apabila digemukkan terlalu lama maka perkembangannya akan semakin lambat dan akan terjadi perlemakan dalam daging (marbling) yang hal ini di pasar lokal (RPH) tradisional kurang disukai oleh customer.
Warna kulit sapi ini sangat bervariasi antara lain putih abu-abu, hitam, coklat/merah/kuning, bahkan loreng seperti harimau. Pasar tradisional tertentu masih ada yang "fanatik" dengan warna kulit, sehingga dengan banyaknya variasi warna kulit sapi ini bisa memenuhi selera tiap-tiap pasar yang cenderung masih spesifik.  Secara umum lebih disukai sapi-sapi yang berwarna merah/coklat/kuning/hitam dengan berat hidup antara 350 - 450 Kg/ekor.
Dari berbagai keunggulan tersebut di atas, dewasa ini di Indonesia terutama di wilayah Jawa Barat dan Sumatra banyak bermunculan Feedlot yang secara intensif menggemukan sapi Jenis Brahman Cross ini. Setelah krisis moneter jumlah import sapi ini dari Australia selalu meningkat setiap tahunnya. Bahkan dalam tahun 2008 sudah lebih 500.000 ekor sapi di import dari Australia dan tahun 2009 mencapai 600.000 ekor.

Gigi Palsu Sapi

Sapi, menghabiskan waktu untuk mengunyah makanan rata-rata 15 jam perhari. Ketika Sapi mencapai usia delapan tahun, sebagian giginya akan tanggal. Akibatnya Sapi tidak lagi bisa mengunyah, dan perlahan berat badan akan turun dan berpengaruh pada produktifitasnya.

Para peternak di Negara Argentina, yang membesarkan sapi-sapi perah mereka di padang La Pampas yang legendaris, mempunyai satu cara untuk mengatasi hal ini. Mereka memasang gigi prosthesis, yaitu gigi palsu untuk menggantikan bagian gigi sapi yang hilang.

Teknologi prosthesis untuk gigi sapi, ditemukan oleh Osvaldo Errobidart, dua puluh tahun yang lalu, dan langsung diterapkan dalam skala besar oleh para peternak sapi di Kota Laprida, Buenos Aires.
Gigi yang terbuat dari besi tahan karat ini hanya membutuhkan waktu 30 detik untuk memasangnya. Ini merupakan solusi hemat dan praktis untuk meningkatkan kapasitas produksi.
Oleh beberapa peneliti, gigi palsu dianggap dapat membuat mulut sapi mudah terinfeksi bakteri. Namun seorang dokter hewan dari Universitas Buenos Aires, Marcelo Zurita, mengatakan bahwa tidak menjadi masalah memasangkan gigi palsu pada sapi yang telah dewasa, karena sapi dewasa dapat membangun sistem kekebalannya sendiri dan merespon baik setiap infeksi dari luar.

Proses Pencernaan Pakan Pada Ternak Sapi

Pakan adalah salah satu faktor yang berpengaruh pada produktifitas ternak dan kemampuan produksinya. Prosentasenya cukup besar, hampir 60% produktifitas ternak tergantung dari kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan, 30 % karena faktor genetik dan 10 % adalah faktor teknik pemeliharaan , kesehatan dan iklim.

Sedangkan salah satu pengaruh faktor genetik adalah alat-alat pencernaanya. Pencernaan adalah rangkaian proses perubahan fisik dan kimia dari pakan, selama berada di dalam alat pencernaan. Proses pencernaan makanan pada ternak ruminansia relatif lebih kompleks, dibandingkan proses pencernaan pada jenis ternak lainnya.

Proses pencernaan pakan pada ternak ruminansia terdiri dari

1. Pencernaan Mekanis, dilakukan di dalam mulut.
2. Pencernaan Fermentatif, dilakukan oleh mikroba daalam rumen.
3. Pencernaan Hidrolisis, dilakukan oleh enzim-enzim pencernaan

Prosespengolahan pakan dilakukan dengan cara memamah biak (ruminasi). Pakan berserat (hijauan) akan disimpan sementara di dalam rumen. Pada saat hewan beristirahat, pakan akan ditarik kembali ke mulut (proses regurgitasi),untuk dikunyah (proses remastikasi). Selanjutnya pakan akan ditelan (proses redeglutasi)., untuk dicerna oleh enzim-enzim mikroba rumen.

Di dalam perut, pakan akan diolah di 4 kompartemen perut, yaitu :

1. Retikulum (perut jala).
2. Rumen (perut beludru).
3. Omasum (perut buku,tersusun dari +/- 100 lipatan ).
4. Abomasum (perut/lambung sejati,karena baik anatomis maupun fisiologisnya sama dengan lambung non-ruminansia).

Alat pencernaan sapi ini , berkembang dalam 3 fase sesuai dengan umur sapi yaitu :

* Fase Non Ruminansi. Fase ini terjadi pada pedet yang baru lahir. Volume retikulo-rumen pada pedet yang baru lahir hanya sekitar 30% dari total kapasitas total perut dan rumennya masih belum berfungsi. Oleh sebab itu, pada fase ini Nutrisi didapat hanya dari susu yang berasal dari induknya. Proses pengolahanya pun langsung ke omasum (tanpa melewati rumen), melalui suatu saluran yang disebut esophagialgroove. Saluran ini menghubungkan esophagus dan reticular omasal orifice.

* Fase Transisi. Fase ini terjadi pada pedet yang telah berusia 2 minggu. Pada usia ini pedet akan mulai belajar memakan pakan kasar (hijauan). Secara bertahap rumen juga berkembang, lebih cepat dari pada kompartemen perut yang lain. Pada fase ini pula mikroba mulai dan rumen mulai berfungsi sebagai tempat fermentasi karbohidrat.

* Fase Ruminansia. Fase ini terjadi pada pedet yang telah berumur 6 minggu. Alat pencernaan mulai berkembang menuju kesempurnaan, hingga komposisi rumen mencapai 81%, retikulum 3%, omasum 7%, danabomasum 9% darivolume total perut.


Proses Pencernaan di Mulut

 
Setelah masuk kedalam mulut sapi, pakan akan diolah secara mekanis (dihancurkan) oleh gigi. Kemudian pakan akan bercampur dengan saliva (air liur), yang disekresikan oleh 3 pasang glandula saliva, yaitu glandula parotid yang terletak di depan telinga, glandula submandibularis (sumbaxillaris) yang terletak pada rahang bawah, dan glandula sublingualis yang terletak dibawah lidah.

Kandungan Saliva terdiri dari air sebanyak 99% airdan 1% sisanya terdiri atas mucin, garam-garam anorganik, dan lisozim kompleks. Saliva pada sapi juga mengandung urea, fosfor (P), dan natrium (Na) yang dapat dimanfaatkan oleh mikroba rumen. Tetapi Saliva pada sapi tidak mengandung enzim ?-amilase yang dapat membantu proses pencernaan. Fungsi saliva adalah untuk :

1. Membasahi pakan agar mudah ditelan
2. Menjaga pH rumen agar tidak naik atau turun terlalu tajam, hal ini terjadi karena saliva memiliki sifat buffer (penyangga) dari bikarbinat yang terkandung didalamnya.

Struktur khusus sistem pencernaan hewan ruminansia

Ada banyak kekhususan sistem pencernaan pada hewan memamah biak (ruminansia) dibandingkan dengan sistem digesti pada manusia. Beberapa organ pencernaan yang berbeda morfologi disesuaikan dengan fungsi alat pencernaan yang di gunakan untuk memamah biak ,bebrapa ciri specifik terdapat pada
1.Gigi seri (Insisivus) memiliki bentuk untuk menjepit makanan berupa tetumbuhan seperli rumput.


2.Geraham belakang (Molare) memiliki bentuk datar dan lobar.

3.Rahang dapat bergerak menyamping untuk menggiling makanan.

4.Struktur lambung memiliki empat ruangan, yaitu: Rumen, Retikulum, Omasum dan Abomasum.

Pola sistem pencernaan pada hewan umumnya sama dengan manusia, yaitu terdiri atas mulut, faring, esofagus, lambung, dan usus. Namun demikian, struktur alat pencernaan kadangkadang berbeda antara hewan yang satu dengan hewan yang lain.

Sapi, misalnya, mempunyai susunan gigi sebagai berikut:
3   3 0 0 0 0 0  0   Rahang atas
M P C I I C P M   Jenis gigi
3  3 0 4 4 0 3   3   Rahang bawah
I = insisivus = gigi seri
C = kaninus = gigi taring
P = premolar = geraham depan
M = molar = geraham belakang

Berdasarkan susunan gigi di atas, terlihat bahwa sapi (hewan memamah biak) tidak mempunyai gigi seri bagian atas dan gigi taring, tetapi memiliki gigi geraham lebih banyak dibandingkan dengan manusia sesuai dengan fungsinya untuk mengunyah makanan berserat, yaitu penyusun dinding sel tumbuhan yang terdiri atas 50% selulosa.

Jika dibandingkan dengan kuda, faring pada sapi lebih pendek. Esofagus (kerongkongan) pada sapi sangat pendek dan lebar serta lebih mampu berdilatasi (mernbesar). Esofagus berdinding tipis dan panjangnya bervariasi diperkirakan sekitar 5 cm.

Lambung sapi sangat besar, diperkirakan sekitar 3/4 dart isi rongga perut. Lambung mempunyai peranan penting untuk menyimpan makanan sementara yang akan dimamah kembali (kedua kah). Selain itu, pada lambung juga terjadi proses pembusukan dan peragian.

Lambung ruminansia terdiri atas 4 bagian, yaitu rumen, retikulum, omasum, dan abomasum dengan ukuran yang bervariasi sesuai dengan umur dan makanan alamiahnya. Kapasitas rumen 80%, retikulum 5%, omasum 7-8%, dan abomasum 7-8%. Pembagian ini terlihat dari bentuk gentingan pada saat otot sfinkter berkontraksi.

Makanan dari kerongkongan akan masuk rumen yang berfungsi sebagai gudang sementara bagi makanan yang tertelan. Di rumen terjadi pencernaan protein, polisakarida, dan fermentasi selulosa oleh enzim selulase yang dihasilkan oleh bakteri dan jenis protozoa tertentu. Dari rumen, makanan akan diteruskan ke retikulum dan di tempat ini makanan akan dibentuk menjadi gumpalan-gumpalan yang masih kasar (disebut bolus). Bolus akan Jimuntahkan kembali ke mulut untuk dimamah kedua kali. Dari mulut makanan akan ditelan kembali untuk diteruskan ke ornasum. Pada omasum terdapat kelenjar yang memproduksi enzim yang akan bercampur dengan bolus. Akhirnya bolus akan diteruskan ke abomasum, yaitu perut yang sebenarnya dan di tempat ini masih terjadi proses pencernaan bolus secara kimiawi oleh enzim.

Proses Pencernaan di Retikulum

Setelah pakan sapi diolah di rumen, makan prosesnya akan diteruskan ke retikulum.
Retikulum berbatasan langsung dengan rumen, akan tetapi diantara keduanya tidak ada dinding penyekat.
Pembatas diantara retikulum dan rumen yaitu hanya berupa lipatan, sehingga partikel pakan akan tercampur.
Retikulum sendiri berasal dari kata reticular yang berarti anyaman benang atau jala, oleh sebab itu reticulum disebut juga sebagai perut jala atau hardware stomach.
Pada dinding retikulum terdapat papillae yang membentuk alur/garis-garis yang saling berhubungan sehingga berbentuk seperti sarang lebah. Secara fisik, tidak terdapat batas yang jelas antara retikulum dengan rumen sehingga kedua kompartemen tersebut sering disebut satu bagian, yaitu retikulo rumen atau rumino-retikulum.
Di bagian reticulum, makanan akan dibentuk menjadi gumpalan-gumpalan yang masih kasar (disebut bolus). Bolus ini nantinya dapat ditarik lagi ke mulut untuk dimamah yang kedua kalinya.

Proses Pencernaan di Rumen

Setelah pakan diproses di dalam mulut, proses kedua adalah di bagian Rumen.
Rumen berbentuk seperti sebuah kantung, yang berfungsi sebagai tempat untuk mengolah pakan dengan bantuan mikroba.
Mikroba rumen terdiri dari bakteri, protozoa dan jamur/fungi (Czerkawski, 1986), yang mayoritas hidup dalam suasana anaerob dan sebagian dalam suasana fakultatif anaerob 



Mikroba dalam rumen berfungsi untuk :

1. Mengubah protein pakan yang berkualitas rendah dan non-protein nitrogen (NPN) menjadi protein penyusun tubuh yang mempunyai komposisi asam amino ideal.
2. Membentuk vitamin B komplek dan vitamin A, yang pada gilirannya berfungsi sebagai sumber nutrisi bagi ternak.
3. Mengolah selulosa pakan . Proses ini dilakukan oleh jamur, dengan cara membentuk koloni pada jaringan selulosa pakan, yang tumbuh menembus dinding selulosa, sehingga pakan lebih mudah dicerna oleh enzim bakteri rumen. Jumlah selulosa pada serat kasar sekitar 30– 60% dari total bahan kering. Selulosa ini akan diuraikan menjadi glukosa Hasil fermentasinya berupa volatille fatty acids (VFA) berguna sebagai sumber energi utama bagi ternak.
4. Mensintesis asam-asam amino dari zat-zat yang mengandung nitrogen yang lebih sederhana.
5. Mikroba rumen yang mati, akan masuk ke dalam usus halus dan selanjutkan akan diproses menjadi sumber protein yang berkualitas tinggi.

Mikroba dapat bekerja dengan baik pada pH Rumen antara 6,7 – 7,0 dan temperature rumen sekitar 38 – 39° C. Air liur (Saliva) yang telah bercampurdengan pakan pada mulut sapi, membantu mempertahankan kondisi ideal ini.
Oleh sebab itu, agar produktifitas ternak sapi tetap tinggi, peternak wajib menjaga kuantitas dan kualitas pakan yang diberikan.